Published On: Fri, May 11th, 2012

Beri nyawa dan hidup (kasih) buat sesama

Renungan Minggu Paskah VI – Tahun B – 13 Mei 2012

Kis 10:25-26,34-35,44-48; 1 Yoh 4:7-10; Yoh 15:9-17

Oleh: Rm. Victor Bani, SVD

Menurut cerita, beberapa tahun setelah kenaikan Yesus ke surga, Yohanes, Rasul kesayangan Yesus, menghabiskan sisa hdpnya di Pulau Patmos. Setiap akhir pekan dia selalu dibawa murid-muridnya untuk berdoa di salah satu rumah ibadat di dekat tempatnya tinggal. Dan biasanya dia selalu diminta untuk memberikan kotbah. Seperti bunyi iklan:  APAPUN MAKANANNYA, MINUMANNYA SELALU TEH SOSRO, begitu juga dengan yang dilakukan oleh Rasul Yohanes. APAPUN BACAANNYA, TEMA KOTBAHNYA SELALU SAMA: TENTANG CINTA KASIH. Dan dia tidak pernah bosan berbicara tentang tema ini. Karena sangat sering mendengar kotbah tentang cinta kasih, suatu hari para muridnya bertanya: mengapa dia selalu berbicara tentang cinta kasih? Apa dia tidak bosan hanya berkotbah tentang tema itu? Dengan tenang dia jawab: kalau semua orangg sudah mempraktekkan cinta kasih dalam hidup sehari-hari, bagi dia, itu sudah cukup. Mereka tidak perlu lagi buat sesuatu yang lain.

Tema cinta kasih, bukanlah tema yang baru. Sejak dulu tema ini sudah dibicarakan orang. Sekarangpun orang masih ramai membicarakannya dimana-mana dan dihari-hari mendatangpun orang akan tetap membicarakan masalah ini.

Tema inilah yang dibicarakan oleh bacaan-bacaan suci pada hari ini. Dalam bacaan II, Rasul Yohanes mengajak kita untuk SALING MENGASIHI satu sama lain. Mengapa? KARENA CINTA KASIH ITU BERASAL DARI ALLAH SENDIRI. Allah telah menunjukkan cintaNya kepada kita dengan MENGUTUS PUTERANYA ke dunia. Dan Yesus, sebagai bukti cintaNya, bahkan rela memberikan nyawaNya sendiri untuk menyelamatkan kita. „TIDAK ADA KASIH YANG LEBIH BESAR DARI KASIH SESEORANG YANG RELA MEMBERIKAN NYAWANYA UNTUK SAHABAT-SAHABATNYA“. Allah ingin agar kita, setelah mengalami dan merasakan kasih sayangNya, membagikannya juga kepada orang lain. Mengapa? KARENA BARANG SIAPA MEMPRAKTEKKAN CINTA KASIH DALAM HIDUPNYA, ALLAH AKAN TINGGAL DI DALAM DIA DAN DIA DI DALAM ALLAH

Persoalannya, BAGAIMANA CARANYA KITA MEMPRAKTEKKAN CINTA KASIH ITU DAN KEPADA SIAPA KITA HARUS BERIKAN CINTA DAN PERHATIAN KITA?

Ibu Teresa dari Kalkuta pernah bercerita: suatu hari sepasang orang muda yang kelihatannya berasal dari keluarga terpandang dan berada, datang kepada dia untuk menyerahkan sejumlah besar uang. Setelah menerima uang itu dan mengucapkan terima kasih, dengan berhati-hati Ibu Teresa bertanya: dari mana mereka dapatkan uang itu? Keduanya katakan bahwa dua hari yang lalu mereka menikah. Dan sebelum pernikahan dilangsungkan, mereka putuskan untuk tidak membuang-buang uang untuk membeli pakaian pesta yang mahal dan membuat perayaan yang meriah. Sebagai gantinya, mereka akan membuat resepsi pernikahan yang sederhana, dan uang yang sudah dipersiapkan untuk membuat pesta yang mewah akan mereka serahkan semuanya utk membantu org miskin.

Ini kejadian langka. Di india, pernikahan tanpa pesta, apalagi buat orang-orang kaya, merupakan sesuatu yang sangat memalukan. Semakin besar suatu pesta pernikahan dirayakan, semakin menunjukan betapa penting, betapa kaya dan betapa tingginya kasta atau kedudukan sosial orang tersebut dalam masyarakat. Tapi anehnya, kedua orang muda itu sama sekali tidak tertarik untuk mengadakan pesta pernikahan secara besar-besaran.

Penasaran, Ibu Teresa bertanya lagi: mengapa mereka mau melakukan semua itu? Mereka katakan bahwa selama hidup, mereka sudah mendapatkan perhatian dan cinta kasih yang luar besar dari Yang Maha Tinggi, yang mereka dapatkan lewat orang tua, sahabat, kenalan dan begitu banyak orang lain. Di hari hari pernikahan, hari yang paling penting dalam hidup mereka, mereka mau bagikan cinta kasih itu kepada orang lain, kepada mereka yang miskin, yang sakit, yang terlantar, yang terpinggirkan, yang nasib hidupnya tidak seberuntung mereka. Sayangnya, mereka tidak bisa lakukan itu sendiri. Tapi mereka percaya Ibu Teresa bisa lakukan itu. Karena itu mereka datang kepadanya dan menyerahkan semua biaya pesta dan hadiah yang mereka dapatkan, supaya dengan pemberian itu, ibu Teresa dapat membantu orang miskin.

Pertanyaan: BAGAIMANA CARANYA KITA PRAKTEKKAN CINTA KASIH DAN KEPADA SIAPA KITA HARUS BERIKAN CINTA DAN PERHATIAN sudah sedikit terjawab dari cerita kecil di atas.

Kita mungkin tidak bisa melakukan seperti yang diperbuat oleh kedua orang muda itu karena situasi dan kondisi kita. Tidak mengapa. Tapi kita bisa praktekkan itu dengan cara lain. Cobalah perhatikan mereka yang tinggal bersama kita: suami, istri, anak-anak, kakek dan nenek kita, juga sahabat dan kenalan kita. Kita tinggal dan hidup bersama-sama dengan orang-orang yang kita cintai. KITA TANYAKAN: SUDAHKAH KITA BAGIKAN CINTA KASIH KEPADA MEREKA? APAKAH KITA SUDAH CUKUP MEMPERHATIKAN MEREKA DALAM HIDUP HARIAN KITA? APAKAH KITA SUDAH MENGASIHI MEREKA DENGAN SEPENUH HATI?

KITA SEMUA TELAH MENGALAMI CINTA KASIH TUHAN YANG DIBERIKAN LEWAT SESAMA. APAKAH KITA SUDAH BAGIKAN ITU UNTUK ORANG LAIN?

BILA BELUM, MARI KITA BELAJAR DARI RASUL YOHANES, KITA BELAJAR DARI KEDUA ORANG MUDA ITU, KITA BELAJAR DARI IBU TERESA, TERLEBIH KITA BELAJAR DARI YESUS SENDIRI YANG RELA MEMBERIKAN NYAWA DAN HIDUPNYA (KASIHNYA) SENDIRI UNTUK ORANG-ORANG YANG DIA KASIHI. Amin.

 

Kirim komentar

Komentar

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

© 2012 Parokiarnoldus.net - All Rights Reserved | Gereja St. Arnoldus Janssen, Bekasi Jl. Ir. H. Juanda No.164, Bekasi 17113 | Telepon : 021-8801763 | Fax : 021 88347168 | Web: www.parokiarnoldus.net | Facebook: parokiarnoldus