Published On: Sat, Apr 2nd, 2011

Buka Mata Hati Untuk Yesus

Renungan Minggu Prapaskah IV – Tahun A – 3 April 2011

1 Sam 16,1b. 6-7. 10-13a; Ef 5,8-14; Yoh 9, 1-41

Oleh: Rm. Victor Bani, SVD

Bacaan Injil di Minggu Prapaskah IV ini menampilkan suatu dialog yang sangat panjang dan menarik antara seorang buta dengan Yesus dan orang-orang Farisi.

Ada dua hal yang membuat dialog ini menarik. Yang pertama: dalam berbagai kisah penyembuhan, sangat jarang Yesus berdialog panjang lebar dengan orang yang disembuhkanNya. Biasanya Dia hanya katakan: „Pergilah, janganlah berbuat dosa lagi; Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau“, dan sebagainya. Tapi yang terjadi di sini, sungguh di luar kebiasaan. Yesus bahkan dua kali berdialog dengan si buta. Pada saat dia disembuhkan dan setelah dia disembuhkan. Artinya, pasti ada sesuatu yang menarik, yang ingin dikatakan oleh penginjil Yohanes lewat dialog mereka.

Yang kedua: Dari semua orang sakit yang pernah disembuhkan oleh Yesus, mungkin orang buta ini adalah satu-satunya orang yang dengan sangat berani mempertahankan keyakinan yang baru dia peroleh dari Yesus ketika dia dihadapkan pada orang-orang Farisi, bahkan lebih dari itu, mungkin dia juga satu-satunya orang yang tidak takut mendebat pendapat orang-orang Farisi.

Orang buta ini sama sekali tidak mengenal, siapa Yesus itu sebenarnya. Mungkin dia pernah mendengar tentang Yesus, tapi cuma sebatas itu. Sesudah bertemu dengan Yesus dan setelah matanya yang buta sejak lahir disembuhkan, dia bisa melihat dengan MATA JASMANInya. Tetapi kemudian, ia bisa melihat Yesus dengan MATA HATInya, dan akhirnya ia dapat melihat Tuhan dengan MATA IMAN.

Mata Jasmani, Mata Hati dan Mata Iman.

 

Mari kita lihat satu persatu:

Mula-mula dia melihat Yesus dengan MATA JASMANInya. Kepada para Farisi yang bertanya kepadanya tentang Yesus, ia berkata: “Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: pergilah ke Siloam dan basulah dirimu. Lalu aku pergi ke sana dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat!”. Yesus menyembuhkan mata jasmaninya.

Sesudah mata jasmaninya dapat melihat,  akhirnya dia tahu siapa itu Yesus.  Ia melihat Yesus dengan MATA HATInya. Dia berpihak kepada Yesus yang telah menyembuhkannya. Kepada orang-orang Farisi yang menuduh Yesus sebagai orang yang berdosa, dia membela Yesus, katanya: “Dia adalah seorang Nabi. Kalau tidak, bagaimana mungkin seorang berdosa dapat membuat mukjizat yang demikian?”

Akhirnya orang buta itu melihat Yesus dengan MATA IMANnya. Kepada Yesus yang bertanya kepada dia, apakah dia percaya kepada Anak Manusia, dengan tanpa ragu ia menjawab: “Ya, aku percaya Tuhan”.

Dalam berpihak dan mengimani Yesus, orang buta ini mendapat begitu banyak halangan dan tantangan. Akan tetapi, luar biasanya, dia sama sekali tidak takut untuk berdebat dengan orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat. Dia tahu apa resiko yang akan dia alami, bila bersikap demikian. Hampir pasti, dia akan dikucilkan dari orang-orang Yahudi lainnya. Dia akan dianggap sebagai seorang pembangkang. Dan itulah yang dia alami. Dia diusir keluar dari rumah ibadat karena mempertahankan iman dan kepercayaannya kepada Yesus. Itulah resiko yang harus ditanggungnya, tapi dia bahagia dengan itu. Dia bahagia bukan saja karena telah disembuhkan, tetapi terlebih karena dia boleh memberikan kesaksian akan iman yang baru didapatnya, dihadapan orang banyak, tetapi terlebih dihadapan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.

Lalu, bagaimana dengan kita. Tidak bisa dipungkiri bahwa beriman kepada Yesus di jaman ini dan di negeri kita tercinta ini, seringkali mengandung banyak resiko. Di banyak tempat orang-orang kesulitan untuk mengungkapkan iman dan kepercayaannya dihadapan umum. Banyak rumah ibadat yang ditutup dengan berbagai alasan. Karena iman dan kepercayaannya orang kesulitan mendapatkan kerja atau promosi jabatan. Di beberapa tempat tidak sedikit anggota umat beragama diteror dan disisihkan dari masyarat tempat tinggalnya, dan masih banyak contoh lainnya.

Pertanyaan untuk kita: dalam situasi sulit dan kritis semacam ini, bagaimanakah sikap dan tindakan kita? Apa yang dapat diperbuat? Ada dua kemungkinan. Yang pertama: orang lari meninggalkan iman dan kepercayaannya untuk mencari selamat. Yang kedua: orang melihat situasi semacam ini sebagai kesempatan untuk meneguhkan imannya. Semakin mendapat kesulitan, orang semakin dikuatkan untuk bertahan. Seperti sebuah mutiara, semakin indah dia kalau digosok, demikian juga hendaknya dengan iman kita. Iman kita akan semakin kuat bila kita sanggup bertahan dalam penderitaan. Dan sejarah gereja kita sudah membuktikan itu. Gereja kita semakin bersih dan bercahaya kalau dia ditantang dan dianiaya.

Saya ingin menutup renungan ini dengan satu cerita kecil dari Rusia, pada saat penganut agama Kristen dikejar-kejar dan dianiaya secara kejam.

 

Pada saat itu biasanya orang Kristen secara sembunyi-sembunyi berkumpul di salah satu rumah untuk berdoa bersama-sama dan untuk saling meneguhkan.

Pada suatu hari, polisi rahasia berhasil menggrebek sebuah rumah dan berhasil menangkap beberapa orang Kristen yang sedang berkumpul untuk berdoa.

 

Di antara orang-orang ini, ada seorang gadis cantik yang bernama Natassa. Dialah yang menjadi penggerak kelompok ini. Dia selalu berbicara tentang Yesus dan warta kabar baik kerajaan Allah. Seperti orang-orang yang lain, Setelah ditangkap Natassa ini dimasukkan dalam sel, diinterogasi, dipukul dan dipermalukan secara keji. Kemudian Natassa dilepaskan kembali dengan ancaman dia tidak boleh berkumpul lagi untuk berdoa.

 

Tetap tidak beberapa lama kemudian, polisi rahasia berhasil menangkap lagi orang-orang kristen yang sedang berkumpul, dan ternyata Natassa ada diantara mereka. Sekali lagi dia disiksa dan dianiaya secara kejam. Kali ini dia harus dibuat kapok. Akhirnya, dalam keadaan luka parah dia dilepaskan.

Tetapi ketika polisi menangkap lagi sekumpulan orang-orang kristen lainnya, ternyata si Natassa ini berada juga di tengah-tengah mereka.

 

Kali ini Natassa dianiaya dengan sangat kejam di luar batas-batas kemanusiaan lalu dibuang ke tempat kerja paksa. Dan sejak saat itu, namanya tidak pernah terdengar lagi.

Akan tetapi, seorang polisi yang pernah ikut berulang kali menyiksa dia selalu teringat pada si Natassa ini. Dia sungguh-sungguh menyesal telah menyiksa seorang gadis yang sungguh-sungguh setia dengan iman dan kepercayaannya. Bertahun-tahun dia mencari Natassa, tetapi dia tidak pernah ketemu. Kemudian, sebagai ungkapan penyesalannya yang luar biasa, dia menulis sebuah buku yang kemudian menjadi termasyur dan menjadi bestseller di mana-mana, sebuah buku dengan judul: „Maafkan saya Natassa“.

 

Tantangan dan penderitaan rupanya sudah menjadi bagian dari hidup seorang kristen. Kalau kita mengalami sedikit tantangan dalam hidup kita, apakah kita bisa dan sanggup bertahan?  Amin.

 

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

© 2012 Parokiarnoldus.net - All Rights Reserved | Gereja St. Arnoldus Janssen, Bekasi Jl. Ir. H. Juanda No.164, Bekasi 17113 | Telepon : 021-8801763 | Fax : 021 88347168 | Web: www.parokiarnoldus.net | Facebook: parokiarnoldus | Twitter : parokiarnoldus | Youtube Channel : parokiarnoldus