Published On: Tue, Oct 4th, 2011

Kasihan, Tidak Bisa Menerima Komuni

Pertanyaan:
Romo yth! Jika seorang Katolik menikah di Gereja nikah lagi di KUA (Kantor Urusan Agama), apakah tidak boleh menerima komuni? Apa yang diperbuat agar bisa menerima komuni? Romo, itu masalah adik perempuan saya. 12 tahun yang lalu, ia menikah di Gereja Katolik dengan pria Muslim. Namun, menikah juga di KUA atas desakan keluarga pihak suaminya. Mereka mempunyai 4 orang anak. Adik saya tetap menjadi Katolik yang berdoa pergi ke gereja. Suaminya tetap Muslim. Namun, 12 tahun ini dia tidak menerima komuni merasa berdosa tidak layak. Pada hal dalam hidup adik saya seorang yang baik sayang terhadap keluarga.

Saya merasa kasihan prihatin keadaan ini. Bagaimana apa yang diperbuat adik saya supaya bias kembali diterima Gereja dan menerima komuni? Saya percaya ada pengampunan baginya.

Sekian terima kasih.
Wanto, Jakarta

Jawaban:
Wanto yang baik! Kalau dulu – dulu adikmu bertanya pada pastor, tidak mengalami kesulitan yang besar seperti sekarang ini. Kasus adikmu bukan yang sulit. Apa yang harus ia perbuat? Pertama temuilah pastor menerima Sakramen Tobat Rekonsiliasi. Akuilah
kesalahannya, dengan sengaja dan kehendak bebas melakukan pernikahan di KUA, setelah nikah resmi di Gereja Katolik. Dalam pengakuan tersebut nyatakanlah rasa penyesalan yang mendalam karena melakukan yang dilarang Gereja Katolik, dengan sadar, disengaja, bebas.

Katakanlah dalam pengakuan tersebut ia berusaha, berkat rahmat Allah, tidak mengulangi
kesalahan yang sama. Yang penting, menurut saya, di samping menerima Sakramen Tobat, perhatian terhadap kehidupan anaknya. Mereka dididik secara Katolik dibaptis secara Katolik, seperti yang adikmu janjikan ketika nikah campur beda agama di Gereja Katolik, sebagai syarat memperoleh dispensasi kawin campur beda agama.

Ini tugas berat yang memperhatikan pendidikan anaknya bidang nilai iman, moral ibunya. Menurut ajaran Gereja Katolik, yang mendidik anak kedua orang tuanya, bukan ibu saja. Pada hal, ayahnya Muslim. Bagaimana dia mendidik anaknya secara Katolik? Karena itu, saya berharap sungguh – sungguh serius, adikmu sekuat tenaga memperhatikan pendidikan anaknya. Kalau sulit, mengapa saudara tidak membantu anak adikmu menjadi anak Katolik yang baik, semakin lama semakin besar, seperti Yesus, semakin tambah hikmatNya, dicintai Allah dan sesama.

Salam doa saya.

 

Disarikan dari Gonjang Ganjing Keluarga Katolik oleh J Hardiwiratno MSF
Enhanced by Zemanta

Kirim komentar

Komentar

Displaying 5 Comments
Have Your Say
  1. edi irawan says:

    YTH, Para Romo dan suster di paroki St. Arnoldus yg saya cintai dan saya hormati. pertama2 salam kenal dan salam damai sejahtera untuk kita semua yg ada di planet bumi ini. saya ada pertanyaan2 seputar perkawinan2 yg seiman(katolik dan katolik atau katolik dan Kristen)dimana yg ujung2nya timbul masalah perceraian karena adanya orang ketiga, karena harta gono-gini maupun penghinaan2 nama baik oleh salah satu pasangan terhadap pasangan hidupnya yg mana berakibat anak harus menderita dan menanggung nama baik keluarga yg tidak manusiawi karena kebodohan2 orang tuanya yg tidak dewasa dalam berfikir dan bertindak karena terbuai bujuk rayu dari “oknum gereja” yg tidak suka melihat keluarga baru katolik berkembang secara sehat alamiah menurut rupa dan gambar YESUS. ataupun kasus2 perkawinan beda agama yg timbul karena gereja katolik kurang berwibawa tegas “karena mengikuti” arus mayoritas sekelompok “oknum sesat” yang ada di gereja( wilayahn dan lingkungan umat)yg tidak mengikuti arus zaman abad 21. Bagaimana Para Romo bertindak secara tegas, adil dan manusiawi terhadap isu-isu diatas secara gamblang, dewasa, bijaksana, dan adil. karena saya melihat dan mendengar dengan mata kepala saya sendiri bahwa gereja telah dikotori dan dihina oleh “oknum gereja” yang tidak bertanggungjawab dan ini harus dituntaskan dengan segera. kasihan mereka2 yg disakiti dan terluka hatinya oleh “oknum sesat gereja” yg mengatasnamakan gereja katolik roma dan doktrin2 NYA. karena mereka2 yg telah disakiti dan dihina martabatnya oleh “para oknum sesat gereja” gereja telah berdiri megah dan para romo dan suster ada utk memenuhi panggilan utk menggembalakan umat YESUS secara sehat jasmani, sehat rohani dan juga manusiawi. terima kasih. semoga thn ekarisati ini jatuh kepada mereka yg berhak secara jujur dan bersih.

  2. ennie says:

    Salam damai,

    Rm, sy mengalami hal yang sama dengan cerita di atas tp semenjak jan. 2012 kami sepakat pisah, kami tidak bisa mengurus surat cerai karena masalah biaya dan anak2 mengikuti agama suami. Yang sy tanyakan setelah mengurus s. cerai apakah sy bisa terima komuni lagi? Atau hanya dengan pengakuan dosa saja sy sdh bisa menerima komuni mengingat kondisi kami sdh pisah?
    Terima kasih atas penjelasannya.

    • Rm. Victor Bani, SVD says:

      Ennie yang baik,

      Tujuan pengakuan dosa -mestinya- pertama tama bukan supaya setelah mengaku dosa, bisa menerima komuni.

      Pengakuan dosa mestinya lahir dari kesadaran yang mendalam, bahwa apa yang pernah dibuat di masa yang lalu itu salah, dosa dan ada keinginan yang kuat untuk memperbaiki apa yang salah.

      Setelah mengaku dosa, seharusnya ada perubahan yang berarti dalam diri orang. orang mesti menata hidupnya supaya lebih baik lagi ke depan, memperhatikan hidup rohani (doa, ke gereja) dan bertanggung jawab terhadap keluarga.

      Itu tujuan utama dari pengakuan dosa, bukan sekedar supaya bisa menerima komuni lagi.

      rm. victor

  3. sunaryo says:

    Untuk ADMIN…tolong penggunaan kata2 “kasihan”, harap dipertimbangkan lagi penggunaanya… entah ini cerita seseorang atau apa tetapi dari judul yg anda tulis “kasihan,tidak bisa komuni”(written by ADMIN) terkesan tidak ada simpati disitu malah agak terkesan hidup anda sebagai orang katholik yg paling benar lalu mengasihani orang, apa anda mau dikasihani orang? Kalau iya maka pantas saja…

    Untuk jawaban dari pertanyaan di atas, mengapa harus ada “kalau dulu-dulu”? Apa bisa dirubah kejadian yg lalu?
    jawabannya terkesan sekedar menjawab…boleh saya tau yg menjawab siapa? Saya yakin mas wanto yg bertanya tidak puas atas jawaban yg diberikan.

    tolong lebih cermat dan bijak lg ADMIN…kasihan…

    • Admin says:

      Bapak Sunaryo yang baik,
      Terima kasih atas tanggapan terhadap artikel ini. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan bahan sharing atas kehidupan beriman katholik terutama dalam memegang teguh perkawinan.

      Seperti kami cantumkan di penghujung artikel, tulisan ini kami kutip dari buku inspiratif “Gonjang Ganjing Keluarga Katolik” oleh J Hardiwiratno MSF. Jadi, teks tanya jawab ini -termasuk penggunaan kata “kasihan” dan “kalau dulu-dulu” adalah kami ambil dari hasil tulisan Romo J Hardiwiratno MSF. Kemungkinan besar ini adalah dialog riil romo tersebut selama mendampingi keluarga-keluarga bermasalah.

      Salam…

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

© 2012 Parokiarnoldus.net - All Rights Reserved | Gereja St. Arnoldus Janssen, Bekasi Jl. Ir. H. Juanda No.164, Bekasi 17113 | Telepon : 021-8801763 | Fax : 021 88347168 | Web: www.parokiarnoldus.net | Facebook: parokiarnoldus
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.