Published On: Sun, Apr 19th, 2015

Kerendahan Hati Orang Kristiani Bukanlah Masokisme, Tetapi Kasih

RV5584_Articolo

Bacaan Ekaristi : Kis. 5:34-42; Yoh. 6:1-15

Penghinaan demi kepentingannya sendiri adalah masokisme, tetapi ketika ia menderita dan menanggung dalam nama Injil ia membuat kita seperti Yesus. Itulah yang dikatakan Paus Fransiskus dalam homilinya selama Misa harian Jumat pagi 17 April 2015 di Casa Santa Marta, Vatikan, ketika beliau mengundang orang-orang Kristiani untuk tidak pernah menumbuhkan sentimen kebencian, tetapi meluangkan waktu mereka untuk menemukan dalam diri mereka sendiri sentimen dan sikap yang berkenan kepada Allah: kasih dan dialog.

Apakah mungkin bagi orang-orang bereaksi terhadap situasi-situasi sulit dengan cara yang dilakukan Allah? Itu, Paus Fransiskus mengatakan, dan itu semua adalah soal waktu. Waktu untuk membiarkan diri kita diresapi oleh sentimen Yesus. Paus Fransiskus menjelaskan hal ini dengan melihat kisah dalam bacaan hari itu dari Kisah Para Rasul. Para rasul dipanggil ke hadapan Mahkamah Agama, dituduh memberitakan Injil yang tidak mau didengar oleh para ahli Taurat.

Namun, salah satu orang Farisi, Gamaliel, menyarankan dengan terus terang bahwa para Rasul harus diizinkan untuk terus berkhotbah, karena jika ajaran para Rasul “berasal dari manusia, ia akan menghancurkan dirinya sendiri”, yang tidak akan terjadi jika ia berasal dari Allah. Mahkamah Agama menerima saran tersebut – yaitu, Paus Fransiskus mengatakan, mereka memilih untuk mengambil “waktu”. Mereka tidak bereaksi dengan mengikuti sentimen-sentimen naluriah kebencian. Dan ini, Paus Fransiskus mengatakan, sebuah “obat” yang tepat bagi setiap manusia:

Memberi waktu demi waktu. Hal ini berguna bagi kita ketika kita memiliki pikiran jahat tentang orang lain, perasaan jahat, ketika kita memiliki permusuhan, kebencian, tidak membiarkannya tumbuh, menghentikannya, memberi waktu demi waktu. Waktu menempatkan hal-hal dalam keselarasan, dan membuat kita melihat hal-hal dalam terang yang tepat. Tetapi jika Anda bereaksi di saat marah, bisa dipastikan Anda akan tidak adil. Anda akan tidak adil. Dan Anda akan menyakiti diri Anda, juga. Berikut adalah beberapa saran : waktu, waktu pada saat pencobaan.

Ketika kita merawat sakit hati, Paus Fransiskus mencatat, tidak dapat dihindari bahwa akan ada ledakan. “Iai akan meledak di dalam caci-maki, di dalam peperangan”, beliau mengamati, dan “dengan pikiran-pikiran jahat terhadap orang lain ini, kita sedang berpeang melawan Allah”; sementara Allah, di sisi lain, “mencintai orang lain, mencintai keselarasan, mencintai kasih, mencintai dialog, mencintai berjalan bersama-sama”. Itu bahkan “terjadi pada saya”, Paus Fransiskus mengakui : “Ketika sesuatu yang tidak menyenangkan, perasaan pertama bukanlah dari Allah, itu jahat, selalu”. Sebaliknya, kita perlu memberikan diri kita jeda, beliau berkata, dan kita harus memberikan “ruang bagi Roh Kudus”, sehingga “kita bisa melakukannya dengan benar, sehingga kita bisa tiba pada kedamaian”. Seperti para Rasul, yang disesah dan meninggalkan Mahkamah Agama dengan “bersukacita” karena telah menderita “penghinaan demi nama Yesus”.

Kebanggaan menjadi yang pertama membawa Anda ingin membunuh orang lain; kerendahan hati, bahkan penghinaan, membawa Anda menjadi seperti Yesus. Dan ini adalah salah satu hal yang tidak kita pikirkan. Pada saat ini yang di dalamnya begitu banyak saudara dan saudari kita sedang menjadi martir demi nama Yesus, mereka berada dalam keadaan ini, mereka memiliki, pada saat ini, sukacita telah menderita penghinaan, dan bahkan kematian, demi nama Yesus. Untuk terbang dari kebanggaan menjadi yang pertama, satu-satunya jalan adalah membuka hati bagi kerendahan hati, bagi kerendahan hati yang tidak pernah sampai tanpa penghinaan. Ini adalah salah satu hal yang tidak dipahami secara alami. Ini adalah sebuah rahmat yang harus kita minta”.

Ini adalah rahmat, Paus Fransiskus menyimpulkan, “meneladan Kristus”. Tidak hanya para martir hari ini yang menjadi saksi peneladanan ini; tetapi juga kesaksian “banyak pria dan wanita yang menderita penghinaan setiap hari, dan demi kebaikan keluarga mereka sendiri”, dan yang “menutup mulut mereka, yang tidak berbicara, menderita karena kasih mereka kepada Yesus” :

Dan ini adalah kekudusan Gereja, sukacita ini yang diberikan penghinaan, bukan karena penghinaan indah, tidak, itu akan menjadi masokisme, tidak : itu karena dengan penghinaan tersebut, Anda meneladan Yesus. Dua sikap: sikap tertutup yang membawa Anda kepada kebencian, kepada amarah, ingin membunuh orang lain; dan sikap terbuka kepada Allah di jalan Yesus, yang membuat kita menerima penghinaan, bahkan penghinaan yang sangat serius, dengan sukacita batin tersebut yang membuat Anda berada di jalan yang ditetapkan oleh Yesus.

sumber : http://pope-at-mass.blogspot.com/

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

© 2012-2015 Parokiarnoldus.net - All Rights Reserved | Gereja St. Arnoldus Janssen, Bekasi Jl. Ir. H. Juanda No.164, Bekasi 17113 | Telepon : 021-8801763 | Fax : 021 88347168 | Web: www.parokiarnoldus.net | Facebook: parokiarnoldus | Twitter : parokiarnoldus | Youtube Channel : parokiarnoldus