Published On: Sat, Sep 10th, 2011

Mengampuni (sesama) Tanpa batas

Hari Minggu Biasa XXIV – Tahun A – 11 September  2011

Sir 27,30-28,9; Rm 17,7-9; Mat 18:21-35

Disadur ulang dari Buku Renungan Harian JPIC SVD Distrik Jakarta oleh Rm. Victor Bani, SVD

Beberapa waktu yang lalu, hidup seorang pensiunan tentara Jerman yang terlibat dalam pembunuhan orang-orang Yahudi pada masa pemerintahan Adolf Hittler. Sejak peristiwa itu, suara hatinya selalu merasa tertekan. Menjelang kematiannya, perasaan salah itu makin bertambah kuat dan ia merasakan kegelisahan yang luar biasa. Ia ingin mendapatkan pengampunan, tetapi siapakah yang dapat memaafkan dia atas nama para korban yang telah dibunuhnya secara keji? Hanya orang Yahudilah yang bisa memaafkannya.

Ia lalu mengutus anaknya untuk bertemu dengan seorang Yahudi yang menjadi tetangga mereka. Orang Yahudi itu datang dan mendekati mantan Perwira yang sedang sakit keras itu. Dengan suara terbata-bata ia bertanya: “Apakah anda bersedia memaafkan saya atas nama orang-orang  yang telah saya bunuh selama pemerintahan Nazi?” Orang Yahudi itu memandang wajah perwira itu selama beberapa menit tanpa expresi dan kemudian meninggalkan tempat itu tanpa berkata apa-apa. Dia menolak untuk memberikan maaf. Tidak lama sesudah itu, sang perwira meninggal tanpa mendapat pengampunan. Suatu kematian yang sangat mengerikan.

Pengampunan adalah suatu perbuatan yang mulia. Ada pepatah bahasa Inggris yang berbunyi: “To err is human, but to forgive is divine.” (“Melakukan kesalahan adalah manusiawi, tetapi memaafkan kesalahan orang lain adalah sesuatu yang ilahi”)  Guna melakukan sesuatu yang ilahi itu, manusia membutuhkan kualitas seorang Allah. Itulah sebabnya orang Yahudi di dalam ceritera tersebut di atas sulit mengampuni perwira yang mengharapkan pengampunan dari padanya.

Sekalipun pengampunan merupakan suatu hal yang sulit dilakukan, namun hal itu tidak berarti bahwa pengampunan tidak bisa dilakukan sama sekali. Ketika Abraham Lincoln ditanyai oleh pengawalnya tentang apa yang akan dilakukannya terhadap musuh-musuhnya, dengan tenang dia menjawab: “Kalau aku memaafkan mereka, apakah engkau berkeberatan?”  Mahatma Gandhi juga menjadi orang yang dikagumi dunia karena ia tidak pernah membalas dendam, melainkan suka memaafkan atau mengampuni betapapun kejinya perlakuan yang dialaminya.

Pengampunan atau memaafkan orang lain merupakan tema yang sering kali dibicarakan di dalam Kitab Suci. Dalam Kitab Putera Sirakh, misalnya, dikatakan:  “Maafkanlah kesalahan sesamamu,  niscaya dosamu akan dihapus”.  Kemudian di dalam Injil, ketika Petrus bertanya sampai berapa kali dia harus mengampuni orang yang berbuat salah kepadanya, Yesus menjawab: “Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Menurut Yesus,  kita hendaknya mengampuni orang lain tanpa batas.

Petrus sebagaimana orang-orang lainnya, berpikir bahwa maaf itu mesti ada batasnya. Menurut tradisi Yahudi, orang boleh mengampuni saudaranya sebanyak tiga kali saja. Petrus berpikir bahwa dengan mengampuni seseorang sampai tujuh kali, dia telah bertindak jauh lebih hebat. Tetapi jawaban Yesus sungguh mengejutkan Petrus. Kita mesti mengampuni orang lain tanpa batas. Mengapa demikian? Karena Allah telah mengampuni kita tanpa batas, maka sebagai pengikutNya, kita harus mau juga mengampuni tanpa batas.

Guna mempertegaskan apa yang diajarkannya, Yesus menceriterakan perumpamaan tentang seorang hamba yang tidak mau mengampuni sesamanya. Hamba itu dipersalahkan karena meskipun telah mendapatkan pengampunan dari tuannya yaitu penghapusan atas segala hutangnya yang begitu besar, ia tidak mau menghapus utang temannya, yang tidak seberapa jumlahnya. Sebaliknya, ia malah menyiksa orang itu dan memasukkannya ke dalam penjara. Melihat itu, marahlah tuannya dan menghukum hamba yang tidak mau mengampuni itu.

Bagi orang-orang Kristen, mengampuni orang lain merupakan syarat agar dosanya diampuni. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mt. 6:14-15). Dosa-dosa kita akan diampuni asalkan kita mau juga mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita. Marilah kita berusaha untuk memaafkan atau mengampuni orang-orang yang bersalah kepada kita. Karena hanya dengan demikianlah kita pun akan mendapat pengampunan dari Allah dan layak untuk memperoleh kehidupan kekal di dalam KerajaanNya.

 

 

Kirim komentar

Komentar

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

© 2012 Parokiarnoldus.net - All Rights Reserved | Gereja St. Arnoldus Janssen, Bekasi Jl. Ir. H. Juanda No.164, Bekasi 17113 | Telepon : 021-8801763 | Fax : 021 88347168 | Web: www.parokiarnoldus.net | Facebook: parokiarnoldus
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.