Published On: Wed, Mar 7th, 2012

Tabor vs Golgota

Renungan Minggu Prapaskah II – Tahun B – 4 Maret 2012

Kej 22,1-2.9a.10-13.15-18; Rm 8,31b-34; Mrk 9,2-10

Oleh: Rm. Victor Bani, SVD

Mengalami penglihatan dan kebersamaan dengan Tuhan adalah sesuatu yang indah dan luar biasa. Makanya masuk akal bila dalam bacaan injil hari ini, Petrus dan teman-temannya tidak mau meninggalkan bukit Tabor untuk selama-lamanya. Akan tetapi bagi Tuhan, yang paling indah justeru, ketika kita mau meninggalkan Dia sejenak, kembali ke tugas harian kita dan melaksanakan rutinitas hidup kita yang mungkin sangat monoton, sangat berat dan sangat membosankan. Lebih tepatnya: Tuhan menghendaki kita mengalami kedua-duanya. Dekat dan selalu berada bersama-sama dengan Dia, tetapi juga, tetap melaksanakan tugas harian kita dengan setia, tulus dan ikhlas. Kebersamaan dengan Tuhan tidak boleh menjadi halangan untuk menjalankan tugas-tugas kita. Sebaliknya, kebersamaan dengan Dia justeru harus menjadi peneguh dan kekuatan untuk melaksanakan tugas dan hidup harian kita.

 

Hidup kita sebagai orang beriman tidak boleh hanya terbatas pada kebersamaan dengan Tuhan, tidak boleh terbatas pada ibadat, tetapi juga pada pelaksanaan tugas kita sehari-hari. Berdoa sepanjang hari itu baik, tidak ada salahnya, akan tetapi tetap bekerja, menjalankan hidup kita, melaksanankan tugas dan kewajibab kita, tidak boleh kita abaikan begitu saja. Dua-duanya harus berjalan imbang, dan ini diinginkan oleh Tuhan.

Kebersamaan dengan Yesus sebagai Putera Allah ditambah lagi dengan dua tokoh besar dari Perjanjian Lama, Musa dan Elia, tentulah sangat mengesankan dan membahagiakan. Makanya tidak mengherankan bila Petrus tanpa sadar katakan: „Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia“. Apakah Yesus mengabulkan permintaan Petrus dan teman-temannya? Tidak. Sesudah peristiwa penampakan itu, Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk turun dari gunung itu, untuk meninggalkan Musa dan Elia, untuk kembali ke dunia nyata dan dunia tugas. Dari puncak gunung Tabor, Yesus membawa pengikut-pengikut-Nya ke Yerusalem, di mana Dia akan menghadapi puncak dari tugas-tugas-Nya, puncak dari perutusan-Nya, yaitu penderitaan dan kematian-Nya. Puncak dari kehidupan Yesus, puncak dari kemuliaan Tuhan bukanlah gunung Tabor, melainkan gunung Golgota.

 

Kita dipanggil dan diutus oleh Tuhan ke tempat di mana kita berkarya sekarang, apapun situasi dan keadaannya. Perjuangan dan tantangan pasti akan selalu datang dalam hidup kita. Tetapi tidak usah kuatir, kita sudah melihat kemuliaan Tabor, kita telah mengalami kejayaan Tabor. Pengalaman ini hendaknya meneguhkan kita dalam tantangan apapun. Menghadapi semuanya itu, Kita tidak perlu mendirikan kemah di atas gunung Tabor seperti permintaan Petrus, tetapi kita harus turun untuk mau mendirikan kemah dan rumah-rumah kita di dunia kita yang biasa dan nyata ini. Penderitaan dan korban pasti akan datang ke kemah-kemah kita, ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Tetapi sekali lagi janganlah takut, sebab kita sudah sudah melihat dan mengalami Tabor. Tabor bukanlah puncak kemuliaan Tuhan, melainkan Golgota. Tabor juga bukanlah puncak kemuliaan kita, melainkan dunia nyata kita sehari-hari. Bila kita mau mengalami Tabor, kita harus juga mau mengalami Golgota. Dan jalan itulah yang dipilih oleh Yesus. Bila Yesus telah memilih jalan itu, sebagai pengikut-pengikut-Nya, kita tidak mungkin memilih jalan lain. Golgotalah satu-satunya jalan pilihan kita.

 

 

 

 

Kirim komentar

Komentar

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

© 2012 Parokiarnoldus.net - All Rights Reserved | Gereja St. Arnoldus Janssen, Bekasi Jl. Ir. H. Juanda No.164, Bekasi 17113 | Telepon : 021-8801763 | Fax : 021 88347168 | Web: www.parokiarnoldus.net | Facebook: parokiarnoldus